Jumat, 10 Mei 2013

Menuduh Syirik dan Risikonya

Debat Khilafiyah

              Pada suatu hari pemuda kampung datang ke kota bogor dan sempat shalat Jum'at di sebuah kampung ternama. Pemuda itu heran mendengar khutbah jumat yang dilakukan dengan suara lantang menggema. isi Khutbah lebih banyak menyentuh masalah kemusyrikan, kafir, bid'ah dan khufarat yang menjadi sasaran amuk sang khatib. Misalnya, amalan-amalan umat islam, tradisi amalan umat islam (seperti ziarah kubur, tahlil, yasinan, barzanji dan lain sebagainya).
             Dua pemuda kampung setelah selesai mengikuti shalat jum'at sempat ngobrol menanggapi isi khutbah jumat yang baru saja didengarkan :"Rasanya kok asing ditelinga kita setelah mendengar khatib tadi tidak menambah iman dan takwa serta tidak pencerahan tetapi kok malah takut dan khawatir." demikian keluh Rofi'in.
     "Mengapa takut dan khawatir? tanya nasikin, kawannya.
             lalu dijawab Rofi'in. "Begini. Saya takut karena khatib tadi menggunakan bahasa yang bernuansa teologis yang sangat beresiko dan itu bisa berdampak pada dirinya." kemudian Nasikin kembali bertanya; "Mengapa demikian?"
             Rofi'in menjawab, "Khatib tadi melakukan tuduhan dengan terang dan jelas padahal jika yang dituduh itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang dituduhkan itu bisa kembali kepada si khatib itu seperti tradisi ziarah makam para wali yang lagi ngetren sekarang ini masak dituduh musyrik. Mestinya dia berkhutbah menggunakan tema tema yang mencerahkan yang dapat membangkitkan kesadaran untuk beramal saleh."
             Oh Begitu dan mengapa anda khawatir? Rofi'in menjawab, "saya khawatir terhadap nasib generasi kita yang pandai-pandai di kampus ini yang disuguhi khutbah yang dangkal dan tidak mencerahkan. Sebab, jika model ceramah seperti ini, maka generasi kita akan mempunyai wawasan yang sempit dalam beragama. Selain itu cara dakwah yang menyerang dan melakukan tuduhan seperti itu dapat menyulut perpecahan dikalangan umat."
              "Yang dituduh belum tentu musyrik, tetapi yang menuduh sudah jelas mendapatkan dosa".

dikutip dari:
1.Buletin Risalah Nahdatul Ulama
2. http://nu.or.id
3. http://google.com

Wejangan untuk anak muda NU

disampaikan pada pembukaan kongres IPNU-IPPNU di ponpes Al-Hikmah II Benda, Brebes Jawa Tengah oleh : KH. A. Hasyim Muzadi

           Pertama kali yang harus dilakukan oleh kader IPNU dan IPPNU adalah tetap mempertahankan dan mengembangkan organisasi pemuda NU . tidak perlu bergeser menjadi organisasi massa, karena sudah memiliki masa melimpah. yang kurang adalah kader-kader, ulama'nya, kader disini yang saya maksudkan dalam empat dimensi ; dimensi keagamaan, dimensi keilmuan, kepemimpinan dan kebangsaan.
          Saya ingin menyampaikan uraian singkat tentang empat dimensi ini. bahwa IPNU dan IPPNU haruslah menjadi pengamal agama yang baik, jangan hanya mengerti agama, namun juga mengamalkan agama dan merasa memiliki agama islam menurut Ahlusunnah Wal-Jama'ah yang dalam bidang pemikiran teologi dan tauhid kita menganut As'yari dan Maturidi. Di dalam bidang hukum Islam kita harus tetap berada pada salah satu Madzhab empat . Didalam Mistik Islam atau Tasawwuf juga berpegang pada Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.
        disamping patokan itu NU  juga mempunyai manhaj (metodologi berfikir) selain madzhab. manhajnya adalah Tassaut dan I'tidal. kita berada pada garis tengah, tidak ekstrim dan tidak liberal. Tidak menggunakan agama dalam kekerasan, tapi juga tidak semena=mena mangagungkan pemikiran kita hingga mengubah Al-Qur'an dan Al-Hadis yang sangat membahayakan Aqidah dan syariah Ahlusunnah Wal-Jama'ah. ini penting sekali saya katakan.

dikutip dari :
1. Majalah Risalah Nahdatul Ulama
2. Nu.or.id
3. google.com

Minggu, 31 Maret 2013

Dinamika Lembaga NU


Dinamika NU
                Prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Prestasi NU antara lain:
  Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing. Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945. Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara. Mempelopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an.

Dasar Keagamaan NU

Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Sejarah Nahdatululama

        Sejarah Berdirinya NU Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.